Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan

Pentingnya Manajemen Waktu Dalam Islam

dakwatuna.com – Begitu berartinya waktu dalam kehidupan kita. Islam telah memberikan gambaran yang utuh tentang memuliakan waktu, karakteristik waktu dan rahasia manajemen waktu nabi. Dalam Al-Qur’an, Allah telah menempatkan waktu pada posisi yang sangat tinggi. “Dan mereka berkata” kehidupan ini tidak lain saat kita berada di dunia, kita mati dan kita hidup, dan tidak ada yang membinasakan (mematikan) kita kecuali dahr (perjalanan waktu yang dilalui oleh alam).” (QS Al-Jaatsiyah: 24).
Waktu harus dimanfaatkan sebaik mungkin, waktu merupakan sarana untuk melakukan dan menyelesaikan banyak hal. Dalam Al-Qur’an waktu benar-benar dimuliakan sampai-sampai banyak sumpah atas nama waktu. Misalnya “Demi waktu” dalam QS Al-Ashr, “Demi waktu saat matahari naik sepenggalah” dalam QS Adh-Dhuhaa. Setiap orang harus bisa menghargai waktu. Waktu adalah modal bagi seorang hamba sebagaimana dikatakan oleh Imam al-Ghazali.
Cover buku “Membongkar Rahasia 7 Manajemen Waktu Nabi Muhammad”Waktu harus digunakan sebaik-baiknya. Jika tidak, maka akan menyesal di kemudian hari. Penyesalan memang tidak datang di awal namun di akhir. Sehingga kebanyakan manusia lalai terhadap waktu. Banyak waktu yang terbuang sia-sia. Banyak orang berkata” andaikan aku punya banyak waktu lebih pasti aku bisa menyelesaikan tugas ini”. Statement tersebut sebagai bentuk bahwa orang tersebut tidak menghargai waktu yang dimiliki. Ketika ada waktu luang mereka lebih suka berleha-leha.
Sedangkan ketika waktu mendesak dia bilang tidak ada waktu lagi untuk mengerjakan hal tersebut. Setiap orang dibekali waktu 24 jam dalam sehari. Namun ada yang mengoptimalkan waktu tersebut dan ada orang yang merugi karena waktunya hanya digunakan untuk main-main, berbicara yang tidak perlu, tidur-tiduran, dan bermalas-malasan. Buku ini memberikan panduan agar pembaca tidak termasuk orang yang merugi lantaran tidak bias mengatur waktu dengan baik.
Satu di antara karakteristik waktu adalah cepat berlalu, “Dan (ingatlah) akan hari (yang waktu itu) Allah mengumpulkan mereka (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah tinggal (di dunia) melainkan sesaat saja di siang hari (yang waktu itu) mereka saling berkenalan” (QS Yunus: 45).
Waktu bergulir dengan cepatnya, sekarang kita masih kuliah tiba-tiba kita sudah bekerja, kemudian menikah, dan sudah menjadi kakek-nenek. Waktu ibarat anak panah yang melesat dengan cepatnya. Waktu yang lewat tak pernah kembali. Banyak orang berpikir bahwa ketika kita melakukan kesalahan di usia muda, akan bertaubat jika usianya sudah tua. Dia optimis masih punya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan di usia tua. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa tidak ada seorang pun yang tahu sampai kapan ia hidup.
Waktu adalah harta yang sangat mahal. Waktu lebih mahal dari uang. Hasan Al-Banna mengatakan suatu nasihat bahwa “waktu adalah kehidupan”. Jangan sampai usia kita hanya kita manfaatkan untuk tidur dan bermalas-malasan. Lakukan aktivitas positif untuk menghargai waktu. Kita diberi waktu sama tapi pemanfaatan terhadap waktu seseorang berbeda.
Ada tujuh poin rahasia manajemen waktu Nabi Muhammad. Dalam waktu 23 tahun beliau telah membuat perubahan besar di Jazirah Arab. Hal ini terjadi lantaran bagusnya manajemen waktu Sang Manusia Teladan itu.
Rahasia pertama adalah shalat fardhu sebagai ajang membentuk watak dan tonggak ritme hidup. Umat muslim telah membuat pemilahan waktu dalam sehari dengan jelas. Umat Islam punya kelebihan di banding umat lain. Ketika kita janjian dengan teman sering kita melibatkan waktu-waktu shalat. Misalnya kita pergi habis Zhuhur ya…Hanya umat Islam yang memiliki trik manajemen waktu sehingga aktivitas kita dapat terprogram dengan baik.
Rahasia kedua adalah berpola pikir investasi, anti-manajemen waktu instan. Maksud dari kalimat tersebut adalah jangan mengelola waktu dengan instan karena hal tersebut akan membuat kita malas dalam berproses. Persiapkan segala hal untuk masa depan kita. Sehingga kita dapat memetik hasilnya di kemudian hari.
Rahasia ketiga adalah terus produktif, jangan biarkan waktu terbuang percuma. Kemudian rahasia selanjutnya adalah gunakan aji mumpung. Rahasia kelima adalah jauhi sikap menunda-nunda. Rahasia keenam adalah cepat, tapi jangan tergesa-gesa. Kemudian rahasia terakhir adalah rutin melakukan evaluasi.
Buku ini direkomendasikan bagi siapa saja yang masih bingung dalam hal manajemen waktu atau bahkan orang yang sudah baik dalam mengelola waktu dan ingin terus mempertahankannya. Buku yang sangat memotivasi pembaca untuk tidak membiarkan waktu terbuang sia-sia. Dikupas secara tuntas tentang manajemen waktu yang telah diajarkan Nabi Muhammad dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami sehingga mudah dinikmati pembaca. Di dalamnya juga menyajikan contoh-contoh peristiwa yang sering kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga pembaca langsung bisa mencerna maksud dari buku ini. Sangat memotivasi.


Judul buku: Membongkar Rahasia 7 Manajemen Waktu Nabi Muhammad
Penulis: M. Arif Hidayatulloh
Penerbit: Hayyun Media
Tebal halaman: 104 halaman
Rabu, 29 April 2015
Posted by ahmad hamdi

Bidadari Syurga

Di langit senja kota seni Yogyakarta,
Matahari terlihat meredupkan cahayanya, warna merah jingga tampak menghiasi ufuk barat. Semilir angin yang bertiup sepoi-sepoi menyentuh wajah yang terlihat lusuh ini, seakan membujuk sang wajah untuk menampilkan senyuman hangat dengan datangnya senja.
Aku berjalan di tengah hiruk piruk kendaraan yang berlalu lalang. Aku langkahkan kaki dengan semangat yang membuncah di dada, berjalan dengan penuh harapan menggelora. Dengan peluh menetes di dahi, membasahi punggung,yang menopang sebuah  tas ransel yang setia menemani dengan ikhlas membawa barang barangku.
Aku mempercepat langkah menuju kantor Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri Sunan Kali Jaga, untuk bertemu dengan Prof. Halim, Dosen Mata Kuliah Tafsir. Beliau adalah seorang dosen sekaligus orang tua bagiku. Karena beliaulah yang telah membantuku selama menjadi mahasiswa. Beliau sangat baik, dan ramah. Beliau juga merupakan seorang dosen teladan yang selalu memberikan motivasi kepada mahasiswanya.
Di dalam ruangan ber AC itu terlihat sepi, hanya ada seorang wanita yang sedang duduk di sofa kantor. Mungkin dia juga sedang menunggu untuk bertemu Prof. Halim. Aku melihat sekeliling, mencari kursi kosong untuk kutempati sejenak, hanya ada dua kursi, di pinggir dan di belakang wanita itu. Aku duduk di kursi belakang, agak jauh dari wanita itu. Aku baru sadar, Di depanku terlihat seorang wanita yang begitu anggun, dengan kulit putih bersih, berjilbab panjang yang menutup aurat dan duduk dengan senyum yang sangat manis tepat di hadapanku. “Pasti wanita ini berasal dari jawa” pikirku.
Tiba tiba seorang petugas memanggil wanita ini “Mbak Sofia silahkan,masuk  anda sudah ditunggu Prof. Halim” ucapnya. Wanita yang dipanggil itu tersenyum dan mengangguk pelan.
“Iya, terimakasih pak.”
Wanita itu berjalan, subhanallah, alangkah indahnya, begitu anggun, seanggun bulan purnama yang menyejukkan mata ketika memandangnya, seperti bunga mawar di tengah putihnya salju.
“Astagfirullah” aku pejamkan mata, tiba tiba terbayang keindahan sosok wanita itu, seakan seluruh pikiran terpusat memujanya. Namun mendadak bayangan itu hilang, saat aku mendengar percakapan Prof. Halim dengan wanita itu.
 “Sofia, kamu hafidhoh, punya prestasi yang gemilang dengan IP yang memuaskan. Sebenarnya apa tujuanmu kuliah?”
Wanita itu menjawab dengan begitu mantabnya “Alhamdulillah, Allah memberi saya kesempatan yang begitu berharga untuk menempuh pendidikan sampai saat ini. memang banyak sekali orang lain di luar sana yang bahkan tidak mampu mengenyam pendidikan sedikitpun. Tujuan dan cita-cita saya adalah agar saya mampu menjadi wanita karir dalam rumah tangga, menjadi Ibu yang mampu mendidik anak-anak saya menjadi insan kamil yang mulia di dunia dan akhirat,, yang mampu melahirkan orang-orang yang teguh dan kuat dalam iman dan Islam, menjadi seorang istri yang mampu menjadi penyejuk jiwa sang suami, yang selalu menghiasi diri dengan senyuman tulus dan ikhlas serta menjadi pendamping dalam perjuangan ibadah kepada Rabbnya.”
Subhanallah, inilah calon Bidadari Syurga, baru kali ini hati merasa seakan penuh sesak, entah ini bahagia, terharu, kagum ataukah ini cinta? Alangkah mulia tujuan hidupnya.
Waktu tetap berjalan, namun hati ini tidak bisa menyembunyikan rasa. Hati yang telah terbelenggu dengan cintaNya. Siapakah wanita itu? begitu anggun dengan balutan jilbab panjang yang melindunginya, membuat mata hati dan pikiran ini terpenjara.
Beberapa waktu pun berlalu, tugas kuliah menumpuk dan schedule untuk besok adalah mata kuliah Tafsir. Aku harus ke perpustakaan untuk mencari referensi. Dengan terburu-buru aku berjalan ke perpustakaan. Masuk dan berniat mengambil Card Library untuk masuk ke perpustakaan, bolak balik ku buka tas dan merogoh saku celana mencari kartu itu, namun aku tak mendapatnya. “hilang”, pikirku.
“Astaqfirullah, Ampuni aku ya Rabb”. Dalam kebingungan, aku duduk di kursi tunggu di depan perpustakaan.
“Assalamu’alaikum Akhi” seorang wanita berjilbab panjang berwarna merah jambu datang menghampiri. Dengan wajah menunduk dan tangan kanan mengulurkan kartu perpustakaan. Aku lihat wajahnya, Subhanallah hatiku berdegub kencang, mengetahui wanita di depanku adalah bidadari syurga yang pernah kutemui. tutur katanya begitu lemah lembut, dan santun. Mencerminkan pribadi yang ta’dzim dan keibuan.
Setiap hari menjadi muhasabah bagi diriku, merenungkan ciptaanNya. Dalam sujud, doa dan setiap kesempatan“ Ya Rabb yang maha menghadirkan Cinta. Cinta ku hanya satu kepada Engkau, dan Engkaulah yang Maha memberikan cinta. Siapakah dia ya Rabb? Seorang makhluk ciptaan Mu yang telah mengganggu pikiranku beberapa waktu ini, Aku berserah diri hanya kepada Mu, dan tumbuhkan cinta ini dalam waktu dan kesempatan yang benar-benar dalam keridhoan Mu”.

Allah benar benar Maha Pengasih dan Penyayang, mengabulkan setiap doa dari hati yang ikhlas. Bidadari Syurga yang bernama Sofia itu memang ditakdirkan menjadi pendamping hidupku. Saat ini, besok, di dunia dan di akhirat. Insyaallah.
Kisah ini terinspirasi kisah cinta seorang Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jember, Muhammad Faisol, M.Ag. kisah ini memberikan pelajaran berharga bagi kaum muslimah, sebuah kisah cinta yang berjalan dalam keridhoanNya.
“Jadilah wanita dambaan Syurga”

by: Hidayah Munawwaroh
Minggu, 19 April 2015
Posted by ahmad hamdi

Bolehkah meruqyah orang kafir yang sakit

Bolehkah meruqyah orang kafir yang sakit untuk tujuan dakwah? Jika ruqyah itu membawa hasil yang baik barangkali si kafir itu akan berpikir masuk Islam? Biasanya dengan cara itu dapat disampaikan kepada si kafir tersebut bahwa sebenarnya tidak ada kekuatan pada ruqyah ini, namun kesembuhan hanya datang dengan kehendak Allah Ta'ala. Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.


Alhamdulillah, tidak ada faktor yang melarang perbuatan tersebut. Allah telah menjadikan Al-Qur'an Al-Karim sebagai obat segala penyakit, sebagaimana halnya madu, minyak zaitun dan lainnya. Perkara-perkara tersebut merupakan faktor-faktor penyembuh, sementara yang menyembuhkan adalah Allah. Boleh saja dilakukan ruqyah terhadap orang kafir tersebut, apalagi Anda berusaha menariknya ke dalam Islam.
Dalam sebuah hadits shahih disebutkan keterangan yang membolehkan meruqyah orang kafir. 
Diriwayatkan dari Abu Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu 'Anhu ia berkata:
"Sesungguhnya beberapa orang dari kalangan Sahabat Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam sedang berada dalam perjalanan. Mereka pergi ke salah satu kampung Arab dan mereka berharap agar boleh diterima sebagai tamu penduduk kampung tersebut (tampaknya penduduk kampung itu adalah orang-orang kafir atau orang-orang bakhil dan brengsek sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul Qayyim dalam buku Madarijus Salikin). Namun ternyata penduduk kampung itu tidak mau menerima mereka. Kemudian ketua atau penghulu kampung kami disengat binatang berbisa. Mereka sudah mengusahakan berbagai macam pengobatan namun tidak mujarab. Salah seorang penduduk kampung itu berkata: "Bagaimana jika kalian temui rombongan tadi, barangkali mereka memiliki sesuatu yang dapat menyembuhkan!?" Penduduk kampung itupun datang menemui mereka lalu berkata: "Wahai rombongan yang mulia, kepala kampung kami tersengat binatang berbisa, kami telah mengusahakan berbagai macam pengobatan namun tidak manjur, apakah salah seorang dari kalian ada yang memiliki sesuatu untuk menyembuhkannya?" Salah seorang dari Sahabat menjawab: "Demi Allah saya mampu meruqyahnya, namun kami tadi meminta kalian menerima kami sebagai tamu namun kalian menolaknya, kami tidak akan melakukannya hingga kalian memberi sesuatu imbalan kepada kami!". Mereka pun sepakat memberi beberapa ekor kambing. Lalu iapun menemui ketua kampung tersebut dan menjampinya dengan membacakan surat Al-Fatihah. Kemudian ketua kampung tersebut sembuh dapat berjalan seperti sedia kala tanpa terasa sakit lagi. Merekapun diberi beberapa ekor kambing sesuai dengan perjanjian. Salah seorang anggota rombongan berkata: "Bagilah kambing-kambing itu!" sahabat yang meruqyah tadi menimpali: "Jangan bagikan dulu sebelum kita laporkan kepada Rasulullah, kita ceritakan apa yang telah terjadi dan kita menunggu apa perintah beliau!" merekapun pulang menemui Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam dan menceritakan pengalaman tersebut. Setelah mendengar kisah mereka itu Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda: "Tahukah engkau, bahwa Al-Fatihah itu memang merupakan ruqyah." Kemudian baginda bersabda lagi: "Tindakan kalian benar, bagilah pemberian mereka dan pastikan aku mendapatkan bagian bersama kalian."
(H.R Al-Bukhari no:2276 dan Muslim no:2201)
Berikut ini akan kami bawakan cuplikan syarah hadits ini oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani serta beberapa faidahnya:
Perkataan: "mereka (para sahabat) berharap agar boleh diterima sebagai tamu penduduk kampung tersebut" yaitu meminta agar diterima sebagai tamu. Dalam riwayat Al-A'masy yang dikeluarkan selain imam Tirmidzi disebutkan: "Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam mengutus tiga puluh orang. Lalu kami (rombongan tersebut) singgah di suatu kaum pada malam hari. Kami meminta agar mereka menerima kami sebagai tamu. Kata Al-Qira maknanya adalah tetamu."
Perkataan: "Disengat binatang berbiasa" yakni kalajengking.
Perkataan: "Mereka telah berusaha menyembuhkan kepala kampung itu dengan segala cara." Yaitu cara-cara pengobatan yang biasa mereka lakukan bila seseorang tersengat kalajengking. Demikianlah penjelasan mayoritaas ulama, yakni mereka telah meminta kepada setiap orang untuk menyembuhkannya.
Perkataan: "Penduduk kampung itupun datang menemui mereka" AlBazzar menambahkan: "Penduduk kampung itu berkata: "Telah sampai berita kepada kami bahwa sahabat kalian (Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam ) telah datang dengan membawa cahaya dan penyembuhan." Para sahabat menjawab: "Benar!"
Perkataan: "Apakah kalian memiliki sesuatu untuk menyembuhkannya?" Dalam riwayatnya Abu Dawud menambahkan: "Penyembuhan yang dapat berguna bagi kepala kampung kami?"
Peraktaan: "Sebagian mereka berkata" Dalam riwayat Abu Dawud berbunyi: "Salah satu anggota rombonga berkata: Benar, demi Allah saya bisa membacakan ruqyah kepadanya." Yang berkata demikian adalah Abu Sa'id Al-Khudri perawi hadits ini. Lafalnya: Aku (Abu Sa'id) berkata: "Benar, aku bisa meruqyahnya. Namun aku tidak akan melakukannya sehingga kalian memberikan beberapa ekor kambing."
Dalam riwayat Sulaiman bin Qittah berbunyi: "Akupun menemuinya dan meruqyahnya dengan membacakan surat Al-Fatihah."
Perkataan: "Merekapun sepakat" yakni mereka menyetujui.
Perkataan: "Memberikan beberapa ekor kambing" dalam riwayat Al-A'masy disebutkan: "Kami akan memberi kalian tiga puluh ekor kambing."
Perkataan: "Maka iapun maju dan menyemburkan" At-tafl adalah semburan yang disertai dengan sedikit ludah.
Ibnu Abi Hamzah berkata: semburan disertai ludah itu dilakukan setelah membaca ayat Al-Qur'an agar mendapat keberkahan bacaan Al-Qur'an pada anggota tubuh yang dikenai oleh semburan ludah tadi. Karena ludah yang disemburkan tadi memiliki berkah.
Perkataan: "Iapun membacakan surat Al-Fatihah" dalam riwayat Syu'bah: "Membacakan Fatihatul Kitab. Dalam riwayat Al-A'masy disebutkan: Surat Al-Fatihah itu dibacakannya sebanyak tujuh kali."
Perkataan: "Seolah-olah ia (kepala kamupung) kembali segar" makna nasyatha adalah bangkit dengan segera.
Perkataan: "dari tali kekang" 'Iqal adalah tali yang diikatkan untuk mengekang binatang ternak.
Perkataan: "Seakan-akan tidak terasa sakit" yaitu seakan-akan tidak berpenyakit. Kadang kala penyakit disebutkan juga al-qalabah (berbolak-balik), karena orang yang sakit akan berguling-guling bolak-balik untuk mengetahui tempat yang sakit.
Sabda nabi: "Tahukah engkau, bahwa Al-Fatihah itu memang merupakan ruqyah." Ad-Dawudi berkata: "Maknanya adalah "Tahukah kamu?" Dalam riwayat Mu'abbad bin Sirrin disebutkan: "Tahukah ia?" kalimat ini biasa digunakan saat takjub kepada sesuatu dan digunakan juga untuk membesarkan sesuatu perkara. Makna kedua inilah yang cocok di sini. Dalam riwayatnya Syu'bah menambahkan "Beliau sama sekali tidak menyebutkan larangan" yaitu Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalamtidak melarang hal itu. Sulaiman bin Qittah menambahkan dalam riwayatnya setelah sabda beliau: "Tahukah engkau bahwa Al-Fatihah itu adalah ruqyah" aku berkata: "Lalu meresaplah sesuatu ke dalam lubuk hatiku" yakni ilham.
Sabda nabi: "Pastikan aku mendapatkan bagian bersama kalian" 
Yakni berikanlah aku bagian daripadanya. Sepertinya beliau ingin menegaskan kebenaran tindakan mereka.
Hadist ini merupakan dalil bolehnya meruqyah dengan membacakan Kitabullah, demikian pula dzikir dan doa yang ma'tsur maupun doa-doa lain yang tidak bertentangan doa yang ma'tsur. Dan hadits itu juga merupakan dalil bolehnya menahan kebaikan kepada seseorang sebagai balasan perbuatannya. Para sahabat menolak melakukan ruqyah sebagai balasan penolakan mereka.
Dalam hadits tersebut juga terdapat dalil bolehnya berijtihad jika tidak didapati nash Al-Qur'an dan As-Sunnah, dan menunjukkan agungnya kedudukan Al-Qur'an di dalam jiwa para Sahabat, khususnya surat Al-Fatihah. Dalam hadits itu dijelaskan bahwa rezeki yang berada ditangan seseorang dan akan Allah bagikan kepada orang lain tidak dapat ditahan siempunya. Ketika penduduk kampung itu menolak menerima mereka sebagai tamu -sementara Allah telah menetapkan bagi rombongan sahabat tersebut bagian dari harta penduduk kampung itu-, meskipun mereka menghalanginya namun Allah menjadikan sengatan kalajengking terhadap kepala kampung itu sebagai sebab berpindahnya harta mereka itu kepada para sahabat. Di dalamnya terdapat hikmah yang sangat tinggi, bahwa balasan akibat penolakan mereka tersebut ditimpakan kepada orang yang paling keras penolakannya di antara mereka, yakni kepala kampung. Sebab biasanya penduduk kampung akan bermusyawarah terlebih dahulu dengan pemuka kampung mereka. Oleh karena kepala kampung itu yang sangat keras penolakannya maka ialah yang merasakan balasannya secara khusus sebagai balasan yang adil.
Dalam kumpulan masalah-masalah fiqih disebutkan: "Tidak ada perbedaan pendapat diantara ahli fiqih tentang bolehnya seorang muslim meruqyah orang kafir. Mereka berdalil dengan hadits Abu Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu 'Anhu yang telah disebutkan di atas. Bentuk pengambilan dalilnya: penduduk kampung yang mereka singgahi dan menolak menerima mereka sebagai tamu itu Adalah kaum kafir.
Dan Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam tidak melarang perbuatan para sahabat tersebut. Wallahu a'lam.
Islam Tanya & Jawab
Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid
Rabu, 13 Agustus 2014
Posted by ahmad hamdi
Tag : ,

Hamas: Kami akan menghujani kota-kota "Israel" dengan roket jika tuntutan kami tidak terpenuhi

GAZA (Arrahmah.com) – Ribuan warga Palestina di Jalur Gaza turun ke jalan-jalan Gaza untuk menunjukkan dukungan bagi tim Palestina di Kairo yang sedang membahas tentang gencatan senjata, sebagaimana dilansir oleh Middle East Monitor (MEMO), Kamis (7/8/2014).

Juru bicara Hamas Mushir Al-Masri dalam pidatonya saat pawai itu mengatakan.. kami belum selesai. Setelah kemenangan di lapangankami sudah tiba di pertarungan politik.
Dia menyampaikan pesan kepada delegasi di KairoUntuk tim di Kairo, itu telah diketahui bahwa ada bangsa yang besar dan sabar di belakang Anda, juga pejuang yang sangat terampil yang menunggu saat untuk melanjutkan pertempuran..”
Al-Masri menyebut tuntutan Palestina ini sebagai suatu tuntunan yang adil dan wajarIni bukan tuntutan para pejuangtapi tuntutan seluruh bangsaJadi musuh Zionis harus memenuhi semua tuntutan tersebut.”
Dia menyerukan kepada semua negara untuk mengambil bagian dalam mendorong pencapaian tuntutan Palestina ituSemua dunia Muslim dan Arabdi samping Mesir dan masyarakat internasional harus bekerja pada pemenuhan tuntutan tersebut.”
Menyikapi Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Moshe Ya’alon nyaAl-Masri mengatakan:. Perang belum berakhir. Para pejuang masih berada di medan perang. Roket kami masih siaga..
Pejuang kami masih menunggu “Israel” menolak tuntutan itu dan mereka akan menghujani kota-kota “Israel” dengan roket.”
Al-Masri juga mengirim pesan kepada “Israel”Kami menyerukan kepada warga “Israel”jika Netanyahu tidak menyetujui tuntutan kamiAnda tidak perlu kembali ke rumah Anda karena serangan roket akan dilanjutkan.
“Negosiasi ini tidak akan menjadi trik untuk menyeret kami dari medan perangkatanya. “Kami telah terbiasa dengan trik tersebut. Kami menyerukan kepada mereka untuk tidak mencoba trik itu kepada kami.
(ameera/arrahmah.com)
Jumat, 08 Agustus 2014
Posted by ahmad hamdi

Ini Ciri Muslimah Yang Cantik Pribadinya

Setiap wanita senantiasa mendambakan kecantikan fisik. Tetapi ingat, kecantikan dari dalam yang lebih dikenal dengan istilah inner beauty adalah hal yang lebih penting daripada kecantikan fisik belaka. Karena, apa gunanya seorang muslimah cantik fisik tetapi tidak memiliki akhlak terpuji. Atau apa gunanya cantik fisik tetapi dibenci orang-orang sekitar karena tindak-tanduknya yang tidak baik. Karena itu, kecantikan dari dalam memang lebih diutamakan untuk menjaga citra diri seorang muslimah.
Lalu seperti apa sih muslimah yang cantik pribadinya itu, berikut ulasanya:
Menjaga kecantikan dari dalam berarti menjaga etika dan budi pekerti baik, serta menggunakan anggota tubuh untuk hal-hal yang baik berdasarkan sudut pandang syariat Islam.
Alloh pun dengan tegas menyatakan bahwa antara ciri hamba-Nya yang baik adalah mereka yang baik ucapannya. Mereka yang apabila dihina atau dicaci oleh orang yang jahil atau tidak berilmu, mereka tidak membalasnya kecuali dengan kata-kata baik dan lemah lembut. Alloh berfirman disurat Al-Furqan ayat 63, yang artinya  “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang- orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang mengandung keselamatan.”
Tak hanya itu, seorang muslimah yang baik akan meninggalkan perkataan-perkataan tidak bermanfaat. sebagaimana Rosululloh bersabda, “Termasuk dari kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak penting baginya.” Mengenai hadits ini, Imam Ibnu Rajab Al-Hambali mengatakan, “Kebanyakan pendapat yang ada tentang maksud meninggalkan apa-apa yang tidak penting adalah menjaga lisan dari ucapan yang tidak berguna.”
Dalam Ad-Daa`wa Ad-Dawaa`, Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah menerangkan lebih lanjut, bahwa “Menjaga lisan adalah agar jangan sampai seseorang mengucapkan kata-kata yang sia-sia. Apabila dia berkata hendaklah berkata yang diharapkan terdapat kebaikan padanya dan manfaat bagi agamanya. Apabila dia akan berbicara hendaklah dia pikirkan, apakah dalam ucapan yang akan dikeluarkan terdapat manfaat dan kebaikan atau tidak? Apabila tidak bermanfaat hendaklah dia diam, dan apabila bermanfaat hendaklah dia pikirkan lagi, adakah kata-kata lain yang lebih bermanfaat atau tidak? Supaya dia tidak menyia-nyiakan waktunya dengan yang tidak bermanfaat.”
Termasuk dalam hal ini adalah menjauhi perbuatan ghibah yang berkaitan erat dengan lisan yang mudah bergerak dan berbicara. Maka hendaknya para muslimah memperhatikan apa-apa yang diucapkan. Jangan sampai terjatuh dalam perbuatan ghibah yang tercela. Bila setiap wanita muslim bisa menjaga lisan dari mengganggu atau menyakiti orang lain, insya Alloh mereka akan menjadi seorang muslimah sejati. sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim bahwa Rosululloh Shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda, ”Seorang muslim sejati adalah bila kaum muslimin merasa selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”
Pun demikian dengan anggota tubuh lainnya, seperti mata. Untuk menjadikan sepasang mata yang indah dan mempesona, maka pandanglah kebaikan-kebaikan dari orang-orang, jangan mencari-cari keburukan mereka. Alloh berfirman mengenai hal ini disurat al-Hujurat ayat 12, artinya “Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.”
Dan terpenting lagi, mempergunakan mata untuk hal-hal yang diridhai Alloh dan Rosul-Nya. Hal ini berarti tidak menggunakan mata untuk bermaksiat. Pandangan mata adalah mata air kemuliaan, bukan menjadikannya  duta nafsu syahwat sesaat.
Betapa banyak manusia mulia yang didera nestapa dan kehinaan, hanya karena mereka tidak dapat mengendalikan mata. Yaitu ketika matanya tidak dapat lagi menyebabkan seseorang menjadi bersyukur atas anugerah nikmat, karena dipergunakan secara zhalim. Seseorang muslimah yang menjaga pandangan berarti dia menjaga harga diri dan kemaluannya. Barangsiapa yang mengumbar pandangannya, maka akan terjerumus ke dalam kebinasaan. Inilah mengapa Rosul menegaskan, “Tundukkan pandangan kalian dan jagalah kemaluan kalian.”
Lalu peliharalah telinga dari mendengarkan musik, gosip, kata-kata keji dan sesat, atau menyebutkan kesalahan-kesalahan orang. Telinga diciptakan untuk mendengarkan Kalam Alloh dan instruksi-instruksi Rosululloh. Sepasang telinga yang indah dan baik adalah yang bisa mengambil manfaat ilmu-ilmu keislaman.
Selanjutnya tangan, tangan yang baik adalah tangan yang diulurkan untuk membantu dan menolong sesama muslim, serta bersedekah dan berzakat. Kita diberi dua tangan; satu untuk membantu kita dan satu lagi untuk membantu orang lain. Lalu Islam juga  mengajarkan bahwa tangan ‘di atas’ lebih baik dari tangan ‘di bawah’. Tentang hal ini, suatu ketika, Rosul ditanya oleh para istrinya, “Siapakah di antara kami yang pertama kali akan menemui engkau kelak?” Dengan suara bergetar, Nabi menjawab, “Tangan siapa di antara kalian yang paling panjang, itulah yang lebih dahulu menemuiku.” “Tangan paling panjang” yang dimaksud Rosululloh adalah yang gemar memberi sedekah kepada fakir miskin.
Maka, jaga baik-baik kedua tangan, jangan dipergunakan untuk memukul seorang muslimah lainya, dipakai untuk mengambil barang haram ataupun mencuri, jangan dipergunakan untuk menyakiti makhluk ciptaan Alloh, atau dipergunakan untuk mengkhianati titipan atau amanah. Atau untuk menulis kata-kata yang tidak diperbolehkan.
Kemudian kedua kaki yang ‘indah’ adalah yang dipergunakan untuk mendatangkan keridhaan Alloh. Jagalah kedua kaki untuk tidak berjalan menuju tempat-tempat yang diharamkan atau pergi ke pintu penguasa yang kafir. Karena hal itu adalah kemaksiatan yang besar dan sama saja dengan merendahkan diri muslimah. Lalu jangan sekali-kali mempergunakan kaki untuk menyakiti saudara-saudari muslimah, pergunakanlah untuk berbakti kepada Alloh, misalnya dengan mendatangi masjid, tempat-tempat pengajian, berjalan untuk menuntut ilmu agama serta menyambung tali silaturahim, atau melangkahkannya untuk berjihad di jalan-Nya.
Rosul bersabda, “Barangsiapa yang kedua telapak kakinya berdebu di jalan Alloh, maka haram atas keduanya tersentuh api neraka.” Beliau menerangkan lagi, “Alloh akan menjamin orang yang keluar (berjuang) di jalan-Nya, seraya berfirman: “Sesungguhnya orang yang berangkat keluar untuk berjihad di jalan-Ku, karena keimanan kepada-Ku dan membenarkan (segala ajaran) para Rasul-Ku, maka ketahuilah bahwa Akulah yang akan menjaminnya untuk masuk ke dalam surga.”
Demikian pula dengan segenap anggota tubuh lainnya. Semuanya akan nampak indah serta mempesona apabila dipergunakan dalam rel ketaatan kepada Alloh dan Rosul-Nya. Kecantikan fisik seorang muslimah bahkan sangat dipengaruhi kecantikan batin. Untuk mendapatkan tubuh yang ramping, maka cobalah untuk berbagi makanan dengan orang-orang fakir-miskin.
Kecantikan sejati seorang muslimah tidak terletak pada keelokan dan keindahan fisik atau keindahan  pakaiannya. Kecantikannya sangat dipengaruhi perilaku dan ketaatannya kepada Alloh dan Rosul-Nya. Kecantikan sebenarnya direfleksikan dalam hati dan jiwanya.
Maka jadikan malu karena Alloh sebagai perona pipinya. Zikir yang senantiasa membasahi bibir adalah lipstiknya. Kacamatanya adalah penglihatan yang terhindar dari maksiat. Air wudhu adalah bedaknya untuk cahaya di akhirat. Kaki indahnya selalu menghadiri majelis ilmu. Tangannya selalu berbuat baik kepada sesama. Pendengaran yang ma’ruf adalah anting muslimah. Gelangnya adalah tawadhu. Kalungnya adalah kesucian, dan seluruhnya dibalut oleh hijab sebagai perisai bagi kehormatanya . Wallohu ’alam.
Posted by ahmad hamdi

Keutaman Belajar hadits

Mempelajari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah keutamaan yang amat agung, imam An Nawawi rahimahullah berkata,” Sesungguhnya diantara ilmu yang paling penting adalah mempelajari hadits-hadits nabi, maksudnya mempelajari matan-matannya, shahih, hasan, dan dla’ifnya, dan ilmu-ilmu hadits lainnya, buktinya adalah : bahwa sesungguhnya syari’at kita berdasarkan kepada Al Qur’an dan sunnah, dan sunnah adalah poros hukum-hukum fiqih, dan kebanyakan ayat-ayat hukum adalah bersifat global, dan penjelasannya ada dalam sunnah.
Para ulama bersepakat bahwa diantara syarat mujtahid baik dari qadli maupun mufti adalah berilmu tentang hadits-hadits hukum. Maka menjadi jelas bahwa menyibukkan diri dengan hadits adalah kebaikan yang paling utama dan taqorrub yang paling agung…”.[1]
Al ‘Allamah Asy Syihab Ahmad Al manini Ad Dimasyqi rahimahullah berkata,” Sesungguhnya ilmu hadits adalah ilmu yang mempunyai kedudukan tinggi, kebanggan yang agung, dan sebutan yang mulia. Tidak ada yang memperhatikannya kecuali ulama dan tidak ada yang terhalang darinya kecuali orang-orang yang bodoh, dan kebaikan-kebaikan ilmu hadits tidak pernah habis sepanjang zaman…”.[2]
Diantara keutamaan mempelajari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah:
Menambah cahaya wajah
Nabi Shallalahu ‘alaihi wasallam mendo’akan orang yang mempelajari hadits Nabi agar diberikan cahaya di wajahnya, beliau bersabda :
 نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَوَعَاهَا وَحَفِظَهَا وَبَلَّغَهَا فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ ثَلَاثٌ لَا يُغِلُّ عَلَيْهِنَّ قَلْبُ مُسْلِمٍ إِخْلَاصُ الْعَمَلِ لِلَّهِ وَمُنَاصَحَةُ أَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَلُزُومُ جَمَاعَتِهِمْ فَإِنَّ الدَّعْوَةَ تُحِيطُ مِنْ وَرَائِهِمْ
            “Semoga Allah memberikan nudlrah (cahaya di wajah) kepada orang yang mendengarkan sabdaku lalu ia memahaminya, menghafalnya dan menyampaikannya, berapa banyak orang yang membawa fiqih kepada orang yang lebih faqih darinya, ada tiga perkara yang tidak akan dengki hati muslim dengannya: mengikhlaskan amal karena Allah, menasehati pemimpin kaum muslimin dan berpegang kepada jama’ah mereka karena do’a mereka meliputi dari belakang mereka”.[3]
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata,” Kalaulah tidak ada keutamaan menuntut ilmu (hadits) kecuali hadits ini, cukuplah ia sebagai kemuliaan. Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mendo’akan untuk orang yang mendengar sabdanya, memahami, menghafal dan menyampaikannya. Inilah martabat-martabat ilmu ; yang pertama dan kedua adalah mendengarkan dan memahaminya dengan hati maksudnya mengikatnya dan menjadi tetap di dalam hatinya…
Yang ketiga adalah menghafalnya sehingga tidak melupakannya, dan yang keempat adalah menyampaikan dan menyebarkannya kepada umat sehingga tercapai maksud dan buahnya yaitu menyebarkannya kepada umat, karena ia bagaikan harta karun yang terpendam di dalam bumi yang apabila tidak dipergunakan ia akan segera hilang. Ilmu bila tidak diinfakkan dan diajarkan akan hilang, namun bila diinfakkan ia akan berkembang dan bertambah.
Barangsiapa yang melaksanakan empat martabat ini, ia termasuk ke dalam do’a Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tersebut yang mengandung keindahan lahir dan batin. Karena nudlrah adalah keindahan dan keelokan yang menghiasi wajah akibat pengaruh iman, kebaikan batin, kegembiraan hati, dan merasakan kelezatannya yang semuanya itu tampak sebagai cahaya di wajah.”[4]
Sufyan bin ‘Uyainah rahimahullah berkata,” Tidak ada seorangpun dari ahli hadits kecuali di wajahnya terdapat cahaya berdasarkan hadits ini.”[5]
Hadits di atas memberikan motivasi kepada kita untuk mempelajari hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, memahaminya, menghafalnya dan menyampaikannya kepada orang lain, oleh karena itu setiap kita berusaha dan berlomba-lomba untuk memahami hadits dan mengamalkannya dalam kehidupan kita, dan mendahulukannya dari perkataan siapapun.

Membela syari’at.
Nabi shallallau ‘alaihi wasallam bersabda :
يَحْمِلُ هَذَا الْعِلْمَ مِنْ كُلِّ خَلَفٍ عُدُولُهُ يَنْفُونَ عَنْهُ تَأْوِيلَ الْجَاهِلِينَ وَانْتِحَالَ الْمُبْطِلِينَ وَتَحْرِيفَ الْغَالِينَ  .
            “Yang membawa hadits ini di setiap generasinya adalah orang-orang yang ‘adil, mereka meniadakan perubahan yang dilakukan oleh orang-orang yang ekstrim, pemalsuan orang-orang yang memalsukan, dan penafsiran orang-orang yang bodoh”.
Al Qasthalani rahimahullah berkata,” Hadits ini diriwayatkan oleh beberapa shahabat diantaranya Ali, ibnu Umar, ibnu ‘Amru, ibnu Mas’ud, ibnu ‘Abbas, Jabir bin Samurah, Mu’adz, dan Abu Hurairah. Dan ibnu ‘Adi menyebutkan banyak jalan yang semuanya lemah sebagaimana yang ditegaskanoleh Ad Daroquthni, Abu Nu’aim, dan ibnu ‘abdil Barr, akan tetapi menjadi kuat dengan banyaknya jalan sehingga menjadi hasan sebagaimana yang dipastikan oleh Al ‘Ala’i.”[6]
Imam An Nawawi rahimahullah berkata,” Ini adalah pengabaran dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai penjagaan ilmu, pemeliharaannya dan keadilan para perawinya, dan bahwasannya Allah ta’ala memberi taufiq disetiap zaman kepada generasi yang adil untuk membawanya dan meniadakan perubahan darinya sehingga tidak hilang begitu saja.”[7]
Al Qasimi rahimahullah berkata,” Di dalam hadits ini terdapat penghususan para pembawa sunnah dengan keistimewaan yang tinggi, pengagungan terhadap umat Muhammad, menjelaskan tentang mulianya kedudukan ahli hadits, dan tingginya martabat mereka di jagat raya. Karena mereka yang memelihara syari’at dan matan-matan riwayat dari perubahan yang dilakukan oleh orang-orang yang ekstrim dan penafsiran orang-orang bodoh dengan cara menukil nash-nash yang muhkamat untuk menjelaskan nash-nash yang mutasyabih (samar).”[8]
Al Khathib Al Baghdadi dalam mukadimah kitabnya “Syaraf ashhabil hadits[9] berkata,” Allah telah menjadikan ahli hadits sebagai tonggak-tonggak syari’at, dengan mereka Allah hancurkan semua bid’ah yang buruk, mereka adalah umana (orang-orang yang terpercaya) Allah untuk makhluk-Nya, perantara antara Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan umatnya.
Mereka telah bersungguh-sungguh menjaga agamanya, cahaya mereka gemerlap, keutamaan mereka amat banyak, madzhab mereka menang, hujjah mereka amat kuat. Setiap kelompok biasanya rujuk kepada hawa nafsunya dan menganggap baik ro’yunya kecuali ashhabul hadits, mereka menjadikan Al Qur’an sebagai kekuatannya, dan sunnah sebagai hujjahnya. Mereka tidak pernah merujuk kepada hawa nafsu tidak pula menengok kepada ro’yu, mereka hanya menerima apa yang diriwayatkan dari Rosul…”
Imam Asy Syafi’I berkata,” Kalau bukan karena adanya ahli hadits, tentu orang-orang zindiq berani berkhutbah di mimbar-mimbar”.[10]

Jihad fisabilillah.
Berkata Sayyid Muhammad bin Al Murtadla Al Yamani rahimahullah,” Orang yang memelihara sunnah dan membelanya sama dengan orang yang berjihad fi sabilillah, ia mempersiapkan alat-alat yang ia mampu dan kekuatan sebagaimana firman Allah Ta’ala :
 وأعدوا لهم مااستطعتم من قوة
            “Persiapkanlah untuk melawan mereka apa yang kamu mampu dari kekuatan”.
Dan disebutkan dalam Ash Shahih bahwa Jibril ‘Alaihissalam membantu Hassan bin Tsabit ketika membela Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan sya’irnya. Maka demikian pula orang yang membela agama dan sunnahnya setelah itu karena keimanan, rasa cinta dan nasehat…”[11]
Imam Yahya bin Yahya At Tamimi guru imam Bukhari dan Muslim berkata,” Membela sunnah lebih utama dari berjihad fisabilillah”. Seseorang berkata kepadanya,” Orang yang menginfakkan hartanya, dan menyusahkan dirinya untuk berjihad, ternyata membela sunnah lebih utama ? beliau berkata,” Ya, jauh sekali.”[12]

Lebih faham Al Qur’an.
Umar bin Khaththab radliyallahu ‘anhu berkata,” Akan datang kelak orang-orang yang mengajakmu dialog dengan menggunakan syubuhat Al Qur’an (ayat-ayat mutasyabihat), maka berdialoglah dengan sunnah, karena orang yang berilmu tentang sunnah lebih mengetahui kitabullah.”[13].
Karena haditslah yang menjelaskan Al Qur’an bukan sebaliknya, kebanyakan ayat-ayat hukum adalah bersifat global dan penjelasannya ada dalam hadits. Imran bin Hushain radliyallahhu ‘anhu pernah berkata kepada seseorang,” Sesungguhnya engkau adalah orang yang bodoh, apakah engkau mendapatkan dalam kitabullah shalat dzuhur empat raka’at dengan tidak mengeraskan bacaan ? kemudian beliau menyebutkan shalat, zakat dan sebagainya, kemudian beliau berkata,” Apakah engkau mendapatkan semua ini dalam kitabullah secara terperinci ? sesungguhnya kitabullah telah menentukan hukumnya dan sunnah yang menjelaskannya”.[14]
Abdullah bin Mas’ud berkata,” Semoga Allah melaknat wanita yang mentato dan yang minta ditato, dan wanita yang mengukir giginya supaya terlihat indah, yang merubah-rubah ciptaan Allah Ta’ala”. Lalu perkataan beliau tersebut sampai kepada seorang wanita yang bernama Ummu Ya’qub, ia wanita yang hafal Al Qur’an. Wanita itupun mendatanginya dan berkata,” Perkataan apa yang sampai kepadaku darimu bahwa engkau melaknat wanita yang bertato dan yang minta ditato, dan wanita yang mengukir giginya supaya terlihat indah, yang merubah-rubah ciptaan Allah Ta’ala ?
Ibnu Mas’ud berkata,” Mengapa aku tidak melaknat orang yang telah dilaknat oleh Rosulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ? dan ia ada dalam kitabullah”. Wanita itu berkata,” Aku telah membaca Al Qur’an semuanya namun aku tidak menemukannya ? ibnu Mas’ud berkata,” Jika kamu hafal Al Qur’an tentu kamu sudah menemukannya, tidakkah kamu membaca  :ur’ada dalam kitabullah”ilaknat oleh Rosulullah shallallahu ‘ibnu ataan apa yang sampai kepadaku darimu bahwa engkau melaknat wanita yang bertato dan yang minta ditato, rlihat indah, yang m
وما آتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه فانتهوا
            “Apa-apa yang diperintahkan oleh Rosul ambillah, dan apa-apa yang dilarang olehnya tinggalkanlah”. (Al Hasyr : 7).[15]

Terhindar dari ra’yu yang tercela.
Al Khathib Al Baghdadi berkata: “Kalaulah orang yang mempunyai ra’yu yang rusak menyibukkan dirinya dengan ilmu yang bermanfaat untuknya, dan mempelajari sunah-sunah Rasulullah dan mengikuti jejak para fuqaha dan ahli hadits, ia akan menemukan sesuatu yang mencukupinya dan lebih mengikuti atsar dari pendapatnya yang rancu. Karena hadits mencakup pengetahuan tentang pokok-pokok tauhid, penjelasan tentang janji dan ancaman serta sifat-sifat Allah Rabul ‘alamin, mengabarkan tentang surga dan neraka, mengabarkan penciptaan langit dan bumi dan keajaiban makhluk-Nya, dan menyebutkan tentang para malaikat-Nya serta sifat-sifat dan tugasnya..”.[16]
Terkadang kita mendapati sebagian kelompok selalu berdalil dengan Al Qur’an dan menafsirkannya dengan ra’yu sendiri dan hawa nafsunya, dengan mempelajari hadits kita dapat mengetahui ra’yu yang benar dari yang salah, oleh karena itu Umar bin Khathab berkata:
سَيَكُونُ أَقْوَامٌ يُجَادِلُونَكُمْ بِمُتَشابَهِ الْقُرْآنِ فَخُذُوهُمْ بِالسُّنَنِ ، فَإِنَّ أَصْحَابَ السُّنَنِ أَعْلَمُ بِكِتَابِ اللَّهِ تَعَالَى
“Akan datang suatu kaum mengajak kamu berdialog dengan ayat-ayat Al Qur’an yang mutasyabihat, maka bawalah mereka kepada sunnah, karena orang yang faham sunah lebih mengetahui kitabullah”.[17]



[1] Lihat Qowa’id attahdits karya Muhammad Jamaluddin Al Qasimi hal. 44.
[2] Ibid.
[3] Hadits Shahih. Dikeluarkan oleh At Tirmidzi no 2658, namun dalam sanadnya terdapat dua rawi mudallis yaitu Abdul Malik bin ‘Umair dan Abdurrahman bin Abdullah bin Mas’ud dan keduanya meriwayatkan dengan ‘an’anah, akan tetapi hadits ini mempunyai syawahid diantaranya hadits Zaid bin Tsabit yang dikeluarkan oleh Tirmidzi juga no 2656 dengan sanad yang shahih, dan hadits Jubair bin Muth’im yang dikeluarkan oleh Al Hakim dalam Mustadraknya 1/162 no 294, Al Hakim berkata setelahnya,” Hadits ini shahih sesuai dengan syarat Syaikhain”. Juga dari hadits Anas bin Malik, Abu Darda, Mu’adz bin Jabal dan An Nu’man bin Basyir sebagaimana yang dikatakan oleh ibnu Qayyim dalam miftah daarissa’adah 1/93.
[4] Ibnu Qayyim, miftah darissa’adah 1/94 tahqiq Sayid ‘Imran.
[5] Lihat Qowa’id attahdits karya Al Qasimi hal 48.
[6] Al Qasthalani, Irsyadussari muqodimah syarah shahih Bukhari 1/4. Syaikh Salim Al hilali dalam bukunya irsyadul fuhul hal 11-35 menyebutkan semua jalan-jalan hadits ini, dan berkesimpulan bahwa hadits ini hasan. Diantara ulama yang mengesahkannya adalah imam Ahmad bin Hanbal, Al Alai, ibnu Qayyim, ibnul Wazir Al Yamani, ibnul Mulaqqin, As Sakhowi, Shiddiq Hasan Khan dan lain-lain.
[7] An Nawawi, Tahdzib asma wallughat 1/17, lihat qowa’id attahdits hal 49.
[8] Al Qasimi, Qowa’id attahdits hal 49.
[9] Hal 8-9.
[10] Ibid.
[11] Qowa’id Attahdits hal 55-56.
[12] Siyar A’lam annubala 10/518.
[13] HR Ad Darimi 1/49 cet. Dar kutub ilmiyah.
[14] Al Aajurri, kitab Asy Syari’ah 1/179 no 104 tahqiq Ali bin Hamad Khosyaan.
[15] Bukhari no 4886, dan Muslim no 2125.
[16] Syaraf ashhabil hadits hal 7-8.
[17] HR Al Aajurri dalam Asy Syari’ah no 150.
Kamis, 07 Agustus 2014
Posted by ahmad hamdi

TOKO ONLINE

Popular Post

Diberdayakan oleh Blogger.

- Copyright © Ahmad Khamdi Musthofa,MT -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -