Tampilkan postingan dengan label Islami. Tampilkan semua postingan
Pentingnya Manajemen Waktu Dalam Islam
dakwatuna.com –
Begitu berartinya waktu dalam kehidupan kita. Islam telah memberikan
gambaran yang utuh tentang memuliakan waktu, karakteristik waktu dan
rahasia manajemen waktu nabi. Dalam Al-Qur’an, Allah telah menempatkan
waktu pada posisi yang sangat tinggi. “Dan mereka berkata” kehidupan
ini tidak lain saat kita berada di dunia, kita mati dan kita hidup, dan
tidak ada yang membinasakan (mematikan) kita kecuali dahr (perjalanan
waktu yang dilalui oleh alam).” (QS Al-Jaatsiyah: 24).
Waktu harus dimanfaatkan sebaik mungkin, waktu merupakan sarana untuk melakukan dan menyelesaikan banyak hal. Dalam Al-Qur’an waktu benar-benar dimuliakan sampai-sampai banyak sumpah atas nama waktu. Misalnya “Demi waktu” dalam QS Al-Ashr, “Demi waktu saat matahari naik sepenggalah” dalam QS Adh-Dhuhaa. Setiap orang harus bisa menghargai waktu. Waktu adalah modal bagi seorang hamba sebagaimana dikatakan oleh Imam al-Ghazali.
Waktu harus digunakan sebaik-baiknya. Jika
tidak, maka akan menyesal di kemudian hari. Penyesalan memang tidak
datang di awal namun di akhir. Sehingga kebanyakan manusia lalai
terhadap waktu. Banyak waktu yang terbuang sia-sia. Banyak orang
berkata” andaikan aku punya banyak waktu lebih pasti aku bisa
menyelesaikan tugas ini”. Statement tersebut sebagai bentuk bahwa
orang tersebut tidak menghargai waktu yang dimiliki. Ketika ada waktu
luang mereka lebih suka berleha-leha.
Sedangkan ketika waktu mendesak dia bilang tidak ada waktu lagi untuk mengerjakan hal tersebut. Setiap orang dibekali waktu 24 jam dalam sehari. Namun ada yang mengoptimalkan waktu tersebut dan ada orang yang merugi karena waktunya hanya digunakan untuk main-main, berbicara yang tidak perlu, tidur-tiduran, dan bermalas-malasan. Buku ini memberikan panduan agar pembaca tidak termasuk orang yang merugi lantaran tidak bias mengatur waktu dengan baik.
Satu di antara karakteristik waktu adalah cepat berlalu, “Dan (ingatlah) akan hari (yang waktu itu) Allah mengumpulkan mereka (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah tinggal (di dunia) melainkan sesaat saja di siang hari (yang waktu itu) mereka saling berkenalan” (QS Yunus: 45).
Waktu bergulir dengan cepatnya, sekarang kita masih kuliah tiba-tiba kita sudah bekerja, kemudian menikah, dan sudah menjadi kakek-nenek. Waktu ibarat anak panah yang melesat dengan cepatnya. Waktu yang lewat tak pernah kembali. Banyak orang berpikir bahwa ketika kita melakukan kesalahan di usia muda, akan bertaubat jika usianya sudah tua. Dia optimis masih punya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan di usia tua. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa tidak ada seorang pun yang tahu sampai kapan ia hidup.
Waktu adalah harta yang sangat mahal. Waktu lebih mahal dari uang. Hasan Al-Banna mengatakan suatu nasihat bahwa “waktu adalah kehidupan”. Jangan sampai usia kita hanya kita manfaatkan untuk tidur dan bermalas-malasan. Lakukan aktivitas positif untuk menghargai waktu. Kita diberi waktu sama tapi pemanfaatan terhadap waktu seseorang berbeda.
Ada tujuh poin rahasia manajemen waktu Nabi Muhammad. Dalam waktu 23 tahun beliau telah membuat perubahan besar di Jazirah Arab. Hal ini terjadi lantaran bagusnya manajemen waktu Sang Manusia Teladan itu.
Rahasia pertama adalah shalat fardhu sebagai ajang membentuk watak dan tonggak ritme hidup. Umat muslim telah membuat pemilahan waktu dalam sehari dengan jelas. Umat Islam punya kelebihan di banding umat lain. Ketika kita janjian dengan teman sering kita melibatkan waktu-waktu shalat. Misalnya kita pergi habis Zhuhur ya…Hanya umat Islam yang memiliki trik manajemen waktu sehingga aktivitas kita dapat terprogram dengan baik.
Rahasia kedua adalah berpola pikir investasi, anti-manajemen waktu instan. Maksud dari kalimat tersebut adalah jangan mengelola waktu dengan instan karena hal tersebut akan membuat kita malas dalam berproses. Persiapkan segala hal untuk masa depan kita. Sehingga kita dapat memetik hasilnya di kemudian hari.
Rahasia ketiga adalah terus produktif, jangan biarkan waktu terbuang percuma. Kemudian rahasia selanjutnya adalah gunakan aji mumpung. Rahasia kelima adalah jauhi sikap menunda-nunda. Rahasia keenam adalah cepat, tapi jangan tergesa-gesa. Kemudian rahasia terakhir adalah rutin melakukan evaluasi.
Buku ini direkomendasikan bagi siapa saja yang masih bingung dalam hal manajemen waktu atau bahkan orang yang sudah baik dalam mengelola waktu dan ingin terus mempertahankannya. Buku yang sangat memotivasi pembaca untuk tidak membiarkan waktu terbuang sia-sia. Dikupas secara tuntas tentang manajemen waktu yang telah diajarkan Nabi Muhammad dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami sehingga mudah dinikmati pembaca. Di dalamnya juga menyajikan contoh-contoh peristiwa yang sering kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga pembaca langsung bisa mencerna maksud dari buku ini. Sangat memotivasi.
Judul buku: Membongkar Rahasia 7 Manajemen Waktu Nabi Muhammad
Penulis: M. Arif Hidayatulloh
Penerbit: Hayyun Media
Tebal halaman: 104 halaman
Waktu harus dimanfaatkan sebaik mungkin, waktu merupakan sarana untuk melakukan dan menyelesaikan banyak hal. Dalam Al-Qur’an waktu benar-benar dimuliakan sampai-sampai banyak sumpah atas nama waktu. Misalnya “Demi waktu” dalam QS Al-Ashr, “Demi waktu saat matahari naik sepenggalah” dalam QS Adh-Dhuhaa. Setiap orang harus bisa menghargai waktu. Waktu adalah modal bagi seorang hamba sebagaimana dikatakan oleh Imam al-Ghazali.
Waktu harus digunakan sebaik-baiknya. Jika
tidak, maka akan menyesal di kemudian hari. Penyesalan memang tidak
datang di awal namun di akhir. Sehingga kebanyakan manusia lalai
terhadap waktu. Banyak waktu yang terbuang sia-sia. Banyak orang
berkata” andaikan aku punya banyak waktu lebih pasti aku bisa
menyelesaikan tugas ini”. Statement tersebut sebagai bentuk bahwa
orang tersebut tidak menghargai waktu yang dimiliki. Ketika ada waktu
luang mereka lebih suka berleha-leha.Sedangkan ketika waktu mendesak dia bilang tidak ada waktu lagi untuk mengerjakan hal tersebut. Setiap orang dibekali waktu 24 jam dalam sehari. Namun ada yang mengoptimalkan waktu tersebut dan ada orang yang merugi karena waktunya hanya digunakan untuk main-main, berbicara yang tidak perlu, tidur-tiduran, dan bermalas-malasan. Buku ini memberikan panduan agar pembaca tidak termasuk orang yang merugi lantaran tidak bias mengatur waktu dengan baik.
Satu di antara karakteristik waktu adalah cepat berlalu, “Dan (ingatlah) akan hari (yang waktu itu) Allah mengumpulkan mereka (mereka merasa di hari itu) seakan-akan mereka tidak pernah tinggal (di dunia) melainkan sesaat saja di siang hari (yang waktu itu) mereka saling berkenalan” (QS Yunus: 45).
Waktu bergulir dengan cepatnya, sekarang kita masih kuliah tiba-tiba kita sudah bekerja, kemudian menikah, dan sudah menjadi kakek-nenek. Waktu ibarat anak panah yang melesat dengan cepatnya. Waktu yang lewat tak pernah kembali. Banyak orang berpikir bahwa ketika kita melakukan kesalahan di usia muda, akan bertaubat jika usianya sudah tua. Dia optimis masih punya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan di usia tua. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa tidak ada seorang pun yang tahu sampai kapan ia hidup.
Waktu adalah harta yang sangat mahal. Waktu lebih mahal dari uang. Hasan Al-Banna mengatakan suatu nasihat bahwa “waktu adalah kehidupan”. Jangan sampai usia kita hanya kita manfaatkan untuk tidur dan bermalas-malasan. Lakukan aktivitas positif untuk menghargai waktu. Kita diberi waktu sama tapi pemanfaatan terhadap waktu seseorang berbeda.
Ada tujuh poin rahasia manajemen waktu Nabi Muhammad. Dalam waktu 23 tahun beliau telah membuat perubahan besar di Jazirah Arab. Hal ini terjadi lantaran bagusnya manajemen waktu Sang Manusia Teladan itu.
Rahasia pertama adalah shalat fardhu sebagai ajang membentuk watak dan tonggak ritme hidup. Umat muslim telah membuat pemilahan waktu dalam sehari dengan jelas. Umat Islam punya kelebihan di banding umat lain. Ketika kita janjian dengan teman sering kita melibatkan waktu-waktu shalat. Misalnya kita pergi habis Zhuhur ya…Hanya umat Islam yang memiliki trik manajemen waktu sehingga aktivitas kita dapat terprogram dengan baik.
Rahasia kedua adalah berpola pikir investasi, anti-manajemen waktu instan. Maksud dari kalimat tersebut adalah jangan mengelola waktu dengan instan karena hal tersebut akan membuat kita malas dalam berproses. Persiapkan segala hal untuk masa depan kita. Sehingga kita dapat memetik hasilnya di kemudian hari.
Rahasia ketiga adalah terus produktif, jangan biarkan waktu terbuang percuma. Kemudian rahasia selanjutnya adalah gunakan aji mumpung. Rahasia kelima adalah jauhi sikap menunda-nunda. Rahasia keenam adalah cepat, tapi jangan tergesa-gesa. Kemudian rahasia terakhir adalah rutin melakukan evaluasi.
Buku ini direkomendasikan bagi siapa saja yang masih bingung dalam hal manajemen waktu atau bahkan orang yang sudah baik dalam mengelola waktu dan ingin terus mempertahankannya. Buku yang sangat memotivasi pembaca untuk tidak membiarkan waktu terbuang sia-sia. Dikupas secara tuntas tentang manajemen waktu yang telah diajarkan Nabi Muhammad dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami sehingga mudah dinikmati pembaca. Di dalamnya juga menyajikan contoh-contoh peristiwa yang sering kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga pembaca langsung bisa mencerna maksud dari buku ini. Sangat memotivasi.
Judul buku: Membongkar Rahasia 7 Manajemen Waktu Nabi Muhammad
Penulis: M. Arif Hidayatulloh
Penerbit: Hayyun Media
Tebal halaman: 104 halaman
Bidadari Syurga
Di langit senja kota seni Yogyakarta,
Matahari terlihat meredupkan cahayanya, warna merah jingga tampak menghiasi ufuk barat. Semilir angin yang bertiup sepoi-sepoi menyentuh wajah yang terlihat lusuh ini, seakan membujuk sang wajah untuk menampilkan senyuman hangat dengan datangnya senja.
Aku berjalan di tengah hiruk piruk kendaraan yang berlalu lalang. Aku langkahkan kaki dengan semangat yang membuncah di dada, berjalan dengan penuh harapan menggelora. Dengan peluh menetes di dahi, membasahi punggung,yang menopang sebuah tas ransel yang setia menemani dengan ikhlas membawa barang barangku.
Aku mempercepat langkah menuju kantor Fakultas Dakwah Universitas Islam Negeri Sunan Kali Jaga, untuk bertemu dengan Prof. Halim, Dosen Mata Kuliah Tafsir. Beliau adalah seorang dosen sekaligus orang tua bagiku. Karena beliaulah yang telah membantuku selama menjadi mahasiswa. Beliau sangat baik, dan ramah. Beliau juga merupakan seorang dosen teladan yang selalu memberikan motivasi kepada mahasiswanya.
Di dalam ruangan ber AC itu terlihat sepi, hanya ada seorang wanita yang sedang duduk di sofa kantor. Mungkin dia juga sedang menunggu untuk bertemu Prof. Halim. Aku melihat sekeliling, mencari kursi kosong untuk kutempati sejenak, hanya ada dua kursi, di pinggir dan di belakang wanita itu. Aku duduk di kursi belakang, agak jauh dari wanita itu. Aku baru sadar, Di depanku terlihat seorang wanita yang begitu anggun, dengan kulit putih bersih, berjilbab panjang yang menutup aurat dan duduk dengan senyum yang sangat manis tepat di hadapanku. “Pasti wanita ini berasal dari jawa” pikirku.
Tiba tiba seorang petugas memanggil wanita ini “Mbak Sofia silahkan,masuk anda sudah ditunggu Prof. Halim” ucapnya. Wanita yang dipanggil itu tersenyum dan mengangguk pelan.
“Iya, terimakasih pak.”
Wanita itu berjalan, subhanallah, alangkah indahnya, begitu anggun, seanggun bulan purnama yang menyejukkan mata ketika memandangnya, seperti bunga mawar di tengah putihnya salju.
“Astagfirullah” aku pejamkan mata, tiba tiba terbayang keindahan sosok wanita itu, seakan seluruh pikiran terpusat memujanya. Namun mendadak bayangan itu hilang, saat aku mendengar percakapan Prof. Halim dengan wanita itu.
“Sofia, kamu hafidhoh, punya prestasi yang gemilang dengan IP yang memuaskan. Sebenarnya apa tujuanmu kuliah?”
Wanita itu menjawab dengan begitu mantabnya “Alhamdulillah, Allah memberi saya kesempatan yang begitu berharga untuk menempuh pendidikan sampai saat ini. memang banyak sekali orang lain di luar sana yang bahkan tidak mampu mengenyam pendidikan sedikitpun. Tujuan dan cita-cita saya adalah agar saya mampu menjadi wanita karir dalam rumah tangga, menjadi Ibu yang mampu mendidik anak-anak saya menjadi insan kamil yang mulia di dunia dan akhirat,, yang mampu melahirkan orang-orang yang teguh dan kuat dalam iman dan Islam, menjadi seorang istri yang mampu menjadi penyejuk jiwa sang suami, yang selalu menghiasi diri dengan senyuman tulus dan ikhlas serta menjadi pendamping dalam perjuangan ibadah kepada Rabbnya.”
Subhanallah, inilah calon Bidadari Syurga, baru kali ini hati merasa seakan penuh sesak, entah ini bahagia, terharu, kagum ataukah ini cinta? Alangkah mulia tujuan hidupnya.
Waktu tetap berjalan, namun hati ini tidak bisa menyembunyikan rasa. Hati yang telah terbelenggu dengan cintaNya. Siapakah wanita itu? begitu anggun dengan balutan jilbab panjang yang melindunginya, membuat mata hati dan pikiran ini terpenjara.
Beberapa waktu pun berlalu, tugas kuliah menumpuk dan schedule untuk besok adalah mata kuliah Tafsir. Aku harus ke perpustakaan untuk mencari referensi. Dengan terburu-buru aku berjalan ke perpustakaan. Masuk dan berniat mengambil Card Library untuk masuk ke perpustakaan, bolak balik ku buka tas dan merogoh saku celana mencari kartu itu, namun aku tak mendapatnya. “hilang”, pikirku.
“Astaqfirullah, Ampuni aku ya Rabb”. Dalam kebingungan, aku duduk di kursi tunggu di depan perpustakaan.
“Assalamu’alaikum Akhi” seorang wanita berjilbab panjang berwarna merah jambu datang menghampiri. Dengan wajah menunduk dan tangan kanan mengulurkan kartu perpustakaan. Aku lihat wajahnya, Subhanallah hatiku berdegub kencang, mengetahui wanita di depanku adalah bidadari syurga yang pernah kutemui. tutur katanya begitu lemah lembut, dan santun. Mencerminkan pribadi yang ta’dzim dan keibuan.
Setiap hari menjadi muhasabah bagi diriku, merenungkan ciptaanNya. Dalam sujud, doa dan setiap kesempatan“ Ya Rabb yang maha menghadirkan Cinta. Cinta ku hanya satu kepada Engkau, dan Engkaulah yang Maha memberikan cinta. Siapakah dia ya Rabb? Seorang makhluk ciptaan Mu yang telah mengganggu pikiranku beberapa waktu ini, Aku berserah diri hanya kepada Mu, dan tumbuhkan cinta ini dalam waktu dan kesempatan yang benar-benar dalam keridhoan Mu”.
Allah benar benar Maha Pengasih dan Penyayang, mengabulkan setiap doa dari hati yang ikhlas. Bidadari Syurga yang bernama Sofia itu memang ditakdirkan menjadi pendamping hidupku. Saat ini, besok, di dunia dan di akhirat. Insyaallah.
Kisah ini terinspirasi kisah cinta seorang Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jember, Muhammad Faisol, M.Ag. kisah ini memberikan pelajaran berharga bagi kaum muslimah, sebuah kisah cinta yang berjalan dalam keridhoanNya.
“Jadilah wanita dambaan Syurga”
by: Hidayah Munawwaroh
by: Hidayah Munawwaroh
Bolehkah meruqyah orang kafir yang sakit
Bolehkah meruqyah orang kafir yang sakit untuk tujuan dakwah? Jika ruqyah itu membawa hasil yang baik barangkali si kafir itu akan berpikir masuk Islam? Biasanya dengan cara itu dapat disampaikan kepada si kafir tersebut bahwa sebenarnya tidak ada kekuatan pada ruqyah ini, namun kesembuhan hanya datang dengan kehendak Allah Ta'ala. Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.
Alhamdulillah, tidak ada faktor yang melarang perbuatan tersebut. Allah telah menjadikan Al-Qur'an Al-Karim sebagai obat segala penyakit, sebagaimana halnya madu, minyak zaitun dan lainnya. Perkara-perkara tersebut merupakan faktor-faktor penyembuh, sementara yang menyembuhkan adalah Allah. Boleh saja dilakukan ruqyah terhadap orang kafir tersebut, apalagi Anda berusaha menariknya ke dalam Islam.
Dalam sebuah hadits shahih disebutkan keterangan yang membolehkan meruqyah orang kafir.
Diriwayatkan dari Abu Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu 'Anhu ia berkata:
"Sesungguhnya beberapa orang dari kalangan Sahabat Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam sedang berada dalam perjalanan. Mereka pergi ke salah satu kampung Arab dan mereka berharap agar boleh diterima sebagai tamu penduduk kampung tersebut (tampaknya penduduk kampung itu adalah orang-orang kafir atau orang-orang bakhil dan brengsek sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul Qayyim dalam buku Madarijus Salikin). Namun ternyata penduduk kampung itu tidak mau menerima mereka. Kemudian ketua atau penghulu kampung kami disengat binatang berbisa. Mereka sudah mengusahakan berbagai macam pengobatan namun tidak mujarab. Salah seorang penduduk kampung itu berkata: "Bagaimana jika kalian temui rombongan tadi, barangkali mereka memiliki sesuatu yang dapat menyembuhkan!?" Penduduk kampung itupun datang menemui mereka lalu berkata: "Wahai rombongan yang mulia, kepala kampung kami tersengat binatang berbisa, kami telah mengusahakan berbagai macam pengobatan namun tidak manjur, apakah salah seorang dari kalian ada yang memiliki sesuatu untuk menyembuhkannya?" Salah seorang dari Sahabat menjawab: "Demi Allah saya mampu meruqyahnya, namun kami tadi meminta kalian menerima kami sebagai tamu namun kalian menolaknya, kami tidak akan melakukannya hingga kalian memberi sesuatu imbalan kepada kami!". Mereka pun sepakat memberi beberapa ekor kambing. Lalu iapun menemui ketua kampung tersebut dan menjampinya dengan membacakan surat Al-Fatihah. Kemudian ketua kampung tersebut sembuh dapat berjalan seperti sedia kala tanpa terasa sakit lagi. Merekapun diberi beberapa ekor kambing sesuai dengan perjanjian. Salah seorang anggota rombongan berkata: "Bagilah kambing-kambing itu!" sahabat yang meruqyah tadi menimpali: "Jangan bagikan dulu sebelum kita laporkan kepada Rasulullah, kita ceritakan apa yang telah terjadi dan kita menunggu apa perintah beliau!" merekapun pulang menemui Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam dan menceritakan pengalaman tersebut. Setelah mendengar kisah mereka itu Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda: "Tahukah engkau, bahwa Al-Fatihah itu memang merupakan ruqyah." Kemudian baginda bersabda lagi: "Tindakan kalian benar, bagilah pemberian mereka dan pastikan aku mendapatkan bagian bersama kalian."
(H.R Al-Bukhari no:2276 dan Muslim no:2201)
Berikut ini akan kami bawakan cuplikan syarah hadits ini oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani serta beberapa faidahnya:
Perkataan: "mereka (para sahabat) berharap agar boleh diterima sebagai tamu penduduk kampung tersebut" yaitu meminta agar diterima sebagai tamu. Dalam riwayat Al-A'masy yang dikeluarkan selain imam Tirmidzi disebutkan: "Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam mengutus tiga puluh orang. Lalu kami (rombongan tersebut) singgah di suatu kaum pada malam hari. Kami meminta agar mereka menerima kami sebagai tamu. Kata Al-Qira maknanya adalah tetamu."
Perkataan: "Disengat binatang berbiasa" yakni kalajengking.
Perkataan: "Mereka telah berusaha menyembuhkan kepala kampung itu dengan segala cara." Yaitu cara-cara pengobatan yang biasa mereka lakukan bila seseorang tersengat kalajengking. Demikianlah penjelasan mayoritaas ulama, yakni mereka telah meminta kepada setiap orang untuk menyembuhkannya.
Perkataan: "Penduduk kampung itupun datang menemui mereka" AlBazzar menambahkan: "Penduduk kampung itu berkata: "Telah sampai berita kepada kami bahwa sahabat kalian (Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam ) telah datang dengan membawa cahaya dan penyembuhan." Para sahabat menjawab: "Benar!"
Perkataan: "Apakah kalian memiliki sesuatu untuk menyembuhkannya?" Dalam riwayatnya Abu Dawud menambahkan: "Penyembuhan yang dapat berguna bagi kepala kampung kami?"
Peraktaan: "Sebagian mereka berkata" Dalam riwayat Abu Dawud berbunyi: "Salah satu anggota rombonga berkata: Benar, demi Allah saya bisa membacakan ruqyah kepadanya." Yang berkata demikian adalah Abu Sa'id Al-Khudri perawi hadits ini. Lafalnya: Aku (Abu Sa'id) berkata: "Benar, aku bisa meruqyahnya. Namun aku tidak akan melakukannya sehingga kalian memberikan beberapa ekor kambing."
Dalam riwayat Sulaiman bin Qittah berbunyi: "Akupun menemuinya dan meruqyahnya dengan membacakan surat Al-Fatihah."
Perkataan: "Merekapun sepakat" yakni mereka menyetujui.
Perkataan: "Memberikan beberapa ekor kambing" dalam riwayat Al-A'masy disebutkan: "Kami akan memberi kalian tiga puluh ekor kambing."
Perkataan: "Maka iapun maju dan menyemburkan" At-tafl adalah semburan yang disertai dengan sedikit ludah.
Ibnu Abi Hamzah berkata: semburan disertai ludah itu dilakukan setelah membaca ayat Al-Qur'an agar mendapat keberkahan bacaan Al-Qur'an pada anggota tubuh yang dikenai oleh semburan ludah tadi. Karena ludah yang disemburkan tadi memiliki berkah.
Perkataan: "Iapun membacakan surat Al-Fatihah" dalam riwayat Syu'bah: "Membacakan Fatihatul Kitab. Dalam riwayat Al-A'masy disebutkan: Surat Al-Fatihah itu dibacakannya sebanyak tujuh kali."
Perkataan: "Seolah-olah ia (kepala kamupung) kembali segar" makna nasyatha adalah bangkit dengan segera.
Perkataan: "dari tali kekang" 'Iqal adalah tali yang diikatkan untuk mengekang binatang ternak.
Perkataan: "Seakan-akan tidak terasa sakit" yaitu seakan-akan tidak berpenyakit. Kadang kala penyakit disebutkan juga al-qalabah (berbolak-balik), karena orang yang sakit akan berguling-guling bolak-balik untuk mengetahui tempat yang sakit.
Sabda nabi: "Tahukah engkau, bahwa Al-Fatihah itu memang merupakan ruqyah." Ad-Dawudi berkata: "Maknanya adalah "Tahukah kamu?" Dalam riwayat Mu'abbad bin Sirrin disebutkan: "Tahukah ia?" kalimat ini biasa digunakan saat takjub kepada sesuatu dan digunakan juga untuk membesarkan sesuatu perkara. Makna kedua inilah yang cocok di sini. Dalam riwayatnya Syu'bah menambahkan "Beliau sama sekali tidak menyebutkan larangan" yaitu Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalamtidak melarang hal itu. Sulaiman bin Qittah menambahkan dalam riwayatnya setelah sabda beliau: "Tahukah engkau bahwa Al-Fatihah itu adalah ruqyah" aku berkata: "Lalu meresaplah sesuatu ke dalam lubuk hatiku" yakni ilham.
Sabda nabi: "Pastikan aku mendapatkan bagian bersama kalian"
Yakni berikanlah aku bagian daripadanya. Sepertinya beliau ingin menegaskan kebenaran tindakan mereka.
Hadist ini merupakan dalil bolehnya meruqyah dengan membacakan Kitabullah, demikian pula dzikir dan doa yang ma'tsur maupun doa-doa lain yang tidak bertentangan doa yang ma'tsur. Dan hadits itu juga merupakan dalil bolehnya menahan kebaikan kepada seseorang sebagai balasan perbuatannya. Para sahabat menolak melakukan ruqyah sebagai balasan penolakan mereka.
Dalam hadits tersebut juga terdapat dalil bolehnya berijtihad jika tidak didapati nash Al-Qur'an dan As-Sunnah, dan menunjukkan agungnya kedudukan Al-Qur'an di dalam jiwa para Sahabat, khususnya surat Al-Fatihah. Dalam hadits itu dijelaskan bahwa rezeki yang berada ditangan seseorang dan akan Allah bagikan kepada orang lain tidak dapat ditahan siempunya. Ketika penduduk kampung itu menolak menerima mereka sebagai tamu -sementara Allah telah menetapkan bagi rombongan sahabat tersebut bagian dari harta penduduk kampung itu-, meskipun mereka menghalanginya namun Allah menjadikan sengatan kalajengking terhadap kepala kampung itu sebagai sebab berpindahnya harta mereka itu kepada para sahabat. Di dalamnya terdapat hikmah yang sangat tinggi, bahwa balasan akibat penolakan mereka tersebut ditimpakan kepada orang yang paling keras penolakannya di antara mereka, yakni kepala kampung. Sebab biasanya penduduk kampung akan bermusyawarah terlebih dahulu dengan pemuka kampung mereka. Oleh karena kepala kampung itu yang sangat keras penolakannya maka ialah yang merasakan balasannya secara khusus sebagai balasan yang adil.
Dalam kumpulan masalah-masalah fiqih disebutkan: "Tidak ada perbedaan pendapat diantara ahli fiqih tentang bolehnya seorang muslim meruqyah orang kafir. Mereka berdalil dengan hadits Abu Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu 'Anhu yang telah disebutkan di atas. Bentuk pengambilan dalilnya: penduduk kampung yang mereka singgahi dan menolak menerima mereka sebagai tamu itu Adalah kaum kafir.
Dan Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam tidak melarang perbuatan para sahabat tersebut. Wallahu a'lam.
Dalam sebuah hadits shahih disebutkan keterangan yang membolehkan meruqyah orang kafir.
Diriwayatkan dari Abu Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu 'Anhu ia berkata:
"Sesungguhnya beberapa orang dari kalangan Sahabat Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam sedang berada dalam perjalanan. Mereka pergi ke salah satu kampung Arab dan mereka berharap agar boleh diterima sebagai tamu penduduk kampung tersebut (tampaknya penduduk kampung itu adalah orang-orang kafir atau orang-orang bakhil dan brengsek sebagaimana dijelaskan oleh Ibnul Qayyim dalam buku Madarijus Salikin). Namun ternyata penduduk kampung itu tidak mau menerima mereka. Kemudian ketua atau penghulu kampung kami disengat binatang berbisa. Mereka sudah mengusahakan berbagai macam pengobatan namun tidak mujarab. Salah seorang penduduk kampung itu berkata: "Bagaimana jika kalian temui rombongan tadi, barangkali mereka memiliki sesuatu yang dapat menyembuhkan!?" Penduduk kampung itupun datang menemui mereka lalu berkata: "Wahai rombongan yang mulia, kepala kampung kami tersengat binatang berbisa, kami telah mengusahakan berbagai macam pengobatan namun tidak manjur, apakah salah seorang dari kalian ada yang memiliki sesuatu untuk menyembuhkannya?" Salah seorang dari Sahabat menjawab: "Demi Allah saya mampu meruqyahnya, namun kami tadi meminta kalian menerima kami sebagai tamu namun kalian menolaknya, kami tidak akan melakukannya hingga kalian memberi sesuatu imbalan kepada kami!". Mereka pun sepakat memberi beberapa ekor kambing. Lalu iapun menemui ketua kampung tersebut dan menjampinya dengan membacakan surat Al-Fatihah. Kemudian ketua kampung tersebut sembuh dapat berjalan seperti sedia kala tanpa terasa sakit lagi. Merekapun diberi beberapa ekor kambing sesuai dengan perjanjian. Salah seorang anggota rombongan berkata: "Bagilah kambing-kambing itu!" sahabat yang meruqyah tadi menimpali: "Jangan bagikan dulu sebelum kita laporkan kepada Rasulullah, kita ceritakan apa yang telah terjadi dan kita menunggu apa perintah beliau!" merekapun pulang menemui Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam dan menceritakan pengalaman tersebut. Setelah mendengar kisah mereka itu Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda: "Tahukah engkau, bahwa Al-Fatihah itu memang merupakan ruqyah." Kemudian baginda bersabda lagi: "Tindakan kalian benar, bagilah pemberian mereka dan pastikan aku mendapatkan bagian bersama kalian."
(H.R Al-Bukhari no:2276 dan Muslim no:2201)
Berikut ini akan kami bawakan cuplikan syarah hadits ini oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani serta beberapa faidahnya:
Perkataan: "mereka (para sahabat) berharap agar boleh diterima sebagai tamu penduduk kampung tersebut" yaitu meminta agar diterima sebagai tamu. Dalam riwayat Al-A'masy yang dikeluarkan selain imam Tirmidzi disebutkan: "Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam mengutus tiga puluh orang. Lalu kami (rombongan tersebut) singgah di suatu kaum pada malam hari. Kami meminta agar mereka menerima kami sebagai tamu. Kata Al-Qira maknanya adalah tetamu."
Perkataan: "Disengat binatang berbiasa" yakni kalajengking.
Perkataan: "Mereka telah berusaha menyembuhkan kepala kampung itu dengan segala cara." Yaitu cara-cara pengobatan yang biasa mereka lakukan bila seseorang tersengat kalajengking. Demikianlah penjelasan mayoritaas ulama, yakni mereka telah meminta kepada setiap orang untuk menyembuhkannya.
Perkataan: "Penduduk kampung itupun datang menemui mereka" AlBazzar menambahkan: "Penduduk kampung itu berkata: "Telah sampai berita kepada kami bahwa sahabat kalian (Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam ) telah datang dengan membawa cahaya dan penyembuhan." Para sahabat menjawab: "Benar!"
Perkataan: "Apakah kalian memiliki sesuatu untuk menyembuhkannya?" Dalam riwayatnya Abu Dawud menambahkan: "Penyembuhan yang dapat berguna bagi kepala kampung kami?"
Peraktaan: "Sebagian mereka berkata" Dalam riwayat Abu Dawud berbunyi: "Salah satu anggota rombonga berkata: Benar, demi Allah saya bisa membacakan ruqyah kepadanya." Yang berkata demikian adalah Abu Sa'id Al-Khudri perawi hadits ini. Lafalnya: Aku (Abu Sa'id) berkata: "Benar, aku bisa meruqyahnya. Namun aku tidak akan melakukannya sehingga kalian memberikan beberapa ekor kambing."
Dalam riwayat Sulaiman bin Qittah berbunyi: "Akupun menemuinya dan meruqyahnya dengan membacakan surat Al-Fatihah."
Perkataan: "Merekapun sepakat" yakni mereka menyetujui.
Perkataan: "Memberikan beberapa ekor kambing" dalam riwayat Al-A'masy disebutkan: "Kami akan memberi kalian tiga puluh ekor kambing."
Perkataan: "Maka iapun maju dan menyemburkan" At-tafl adalah semburan yang disertai dengan sedikit ludah.
Ibnu Abi Hamzah berkata: semburan disertai ludah itu dilakukan setelah membaca ayat Al-Qur'an agar mendapat keberkahan bacaan Al-Qur'an pada anggota tubuh yang dikenai oleh semburan ludah tadi. Karena ludah yang disemburkan tadi memiliki berkah.
Perkataan: "Iapun membacakan surat Al-Fatihah" dalam riwayat Syu'bah: "Membacakan Fatihatul Kitab. Dalam riwayat Al-A'masy disebutkan: Surat Al-Fatihah itu dibacakannya sebanyak tujuh kali."
Perkataan: "Seolah-olah ia (kepala kamupung) kembali segar" makna nasyatha adalah bangkit dengan segera.
Perkataan: "dari tali kekang" 'Iqal adalah tali yang diikatkan untuk mengekang binatang ternak.
Perkataan: "Seakan-akan tidak terasa sakit" yaitu seakan-akan tidak berpenyakit. Kadang kala penyakit disebutkan juga al-qalabah (berbolak-balik), karena orang yang sakit akan berguling-guling bolak-balik untuk mengetahui tempat yang sakit.
Sabda nabi: "Tahukah engkau, bahwa Al-Fatihah itu memang merupakan ruqyah." Ad-Dawudi berkata: "Maknanya adalah "Tahukah kamu?" Dalam riwayat Mu'abbad bin Sirrin disebutkan: "Tahukah ia?" kalimat ini biasa digunakan saat takjub kepada sesuatu dan digunakan juga untuk membesarkan sesuatu perkara. Makna kedua inilah yang cocok di sini. Dalam riwayatnya Syu'bah menambahkan "Beliau sama sekali tidak menyebutkan larangan" yaitu Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalamtidak melarang hal itu. Sulaiman bin Qittah menambahkan dalam riwayatnya setelah sabda beliau: "Tahukah engkau bahwa Al-Fatihah itu adalah ruqyah" aku berkata: "Lalu meresaplah sesuatu ke dalam lubuk hatiku" yakni ilham.
Sabda nabi: "Pastikan aku mendapatkan bagian bersama kalian"
Yakni berikanlah aku bagian daripadanya. Sepertinya beliau ingin menegaskan kebenaran tindakan mereka.
Hadist ini merupakan dalil bolehnya meruqyah dengan membacakan Kitabullah, demikian pula dzikir dan doa yang ma'tsur maupun doa-doa lain yang tidak bertentangan doa yang ma'tsur. Dan hadits itu juga merupakan dalil bolehnya menahan kebaikan kepada seseorang sebagai balasan perbuatannya. Para sahabat menolak melakukan ruqyah sebagai balasan penolakan mereka.
Dalam hadits tersebut juga terdapat dalil bolehnya berijtihad jika tidak didapati nash Al-Qur'an dan As-Sunnah, dan menunjukkan agungnya kedudukan Al-Qur'an di dalam jiwa para Sahabat, khususnya surat Al-Fatihah. Dalam hadits itu dijelaskan bahwa rezeki yang berada ditangan seseorang dan akan Allah bagikan kepada orang lain tidak dapat ditahan siempunya. Ketika penduduk kampung itu menolak menerima mereka sebagai tamu -sementara Allah telah menetapkan bagi rombongan sahabat tersebut bagian dari harta penduduk kampung itu-, meskipun mereka menghalanginya namun Allah menjadikan sengatan kalajengking terhadap kepala kampung itu sebagai sebab berpindahnya harta mereka itu kepada para sahabat. Di dalamnya terdapat hikmah yang sangat tinggi, bahwa balasan akibat penolakan mereka tersebut ditimpakan kepada orang yang paling keras penolakannya di antara mereka, yakni kepala kampung. Sebab biasanya penduduk kampung akan bermusyawarah terlebih dahulu dengan pemuka kampung mereka. Oleh karena kepala kampung itu yang sangat keras penolakannya maka ialah yang merasakan balasannya secara khusus sebagai balasan yang adil.
Dalam kumpulan masalah-masalah fiqih disebutkan: "Tidak ada perbedaan pendapat diantara ahli fiqih tentang bolehnya seorang muslim meruqyah orang kafir. Mereka berdalil dengan hadits Abu Sa'id Al-Khudri Radhiyallahu 'Anhu yang telah disebutkan di atas. Bentuk pengambilan dalilnya: penduduk kampung yang mereka singgahi dan menolak menerima mereka sebagai tamu itu Adalah kaum kafir.
Dan Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam tidak melarang perbuatan para sahabat tersebut. Wallahu a'lam.
Islam Tanya & Jawab
Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid
Syeikh Muhammad Sholih Al-Munajid
